Sabtu, 29 Agustus 2015

ANGGAPAN CINTA





Hey…. Aku merasa aku kurang beruntung dalam masalah cinta. Sejak kecil aku tak pernah pacaran. Aku tidak pernah menyatakan cinta dan dinyatakan cinta. Kadang aku berfikir apa karena aku yang berperawakan kurus ceking dengan wajah coklat manis. Stylelist ku si biasa saja tidak  terlalu mencolok seperti anak gadis lain kebanyakan seperti baju kaus berenda dengan celana jins dan rambut yang diikat satu.
Kisah cintaku berawal saat masa SD ku ketika itu aku duduk di kelas 5 SD. Aku tanpa disadari sering bermain main dengan temanku Ardiansyah. Dia duduk tepat didepanku. Itu membuat kami sering bermain sepanjang tidak ada guru. Perlahan aku merasakan kenyamanan saat bersamanya dan cemburu ketika dia bermain dengan teman cewek yang lain. Badannya yang semampai dengan wajah manis dan dagu yang menonjol membuatnya tampak memesona. Tak heran kalau dia banyak disukai teman teman cewek yang lain.
Kami duduk di tempat yang sama kelas 6 SD. Kami semakin dekat. Dia selalu memanggilku “kak Shofi…” dengan panggilan yang sangat lembut dan setelah itu kami bercerita ngalor ngidul dan diiringi dengan gelak tawa. Dia sangat peduli padaku apapun yang terjadi padaku. Pernah suatu hari ada dua teman cowok kami berkelahi di kelas membuat situasi heboh dan mencengangkan. Ardiansyah berusaha memisahkan mereka tetapi malah dia yang kena banyak pukulan dari kedua teman tersebut, Ardiansyah yang sudah kalap emosi memanggil guru dan mereka pun disuruh ke kantor. Ardiansyah yang disuruh untuk mendiamkan kelas segera berteriak keras dengan emosi karena pukulan pukulan tadi membuatnya kesakitan kelas yang tadinya hingar bingar keributan mendadak diam demi melihat Ardiansyah emosi seperti itu. Semuanya pada takut semua padanya. Aku yang terbiasa dengan dia bersikap biasa saja. Aku menenangkan dia dan dia tersenyum hangat kepadaku. Disitu aku mengetahui kalau dia emosian tidak bisa terkendali.
Hari itu aku terbiasa diantar ibuku sepulang sekolah tidak menyangka dia mengikutiku diam diam. Dia ingin mengetahui dimana rumahku. Aku yang biasa sepulang sekolah bermain dengan tetanggaku tidak menyangka kalau dia melihat dari jauh dan tak tahu dia mengendarai apa ke rumahku. Aku mengetahuinya setelah besok dia bersindir ria dengan teman karibnya tentang aku. Aku tersadar kalau yang mereka bicarakan itu aku dan aku kaget kenapa diam diam kenapa gak datang aja berkunjung ke rumah.
Hari pertama dia mendapat HP dari orang tuanya dia lansung meminta nomorku. Aku lagaknya jual mahal tidak memberikannya. Tidak peduli pada saat itu pagi ujian UN. Dia membujuk dan memohon kepadaku agar memberikan nomorku kepadanya akhirnya akupun menyerah dan memberikannya lalu dia ingin menfhotoku  aku tidak mau dan langsung lari. Padahal aku sebenarnya senang tapi gengsiku terlalu tinggi aku meninggalkannya. Kami ujian dengan tenang. Malamnya dia menelfonku. Malam kedua UN membuat orang tuaku mewajibkan aku belajar tidak yang lain lain. Demi melihat Ardiansyah menelfonku aku bersembunyi diboneka beruang besarku untuk memperkecil suaraku di kamar. Kami pun berbicara ngalor ngidul di telefon tidak terlalu lama kemudian kami belajar kembali.
Sebenarnya dia pernah ingin mengajakku untuk naik ke atas lantai dua berdua saja. Katanya ada yang ingin dibicarakan. Ketika itu kami dengan teman teman yang lain berkunjung ke rumah teman kami. Aku dengan gengsiku yang tinggi menolaknya dan mengajukan syarat jika teman teman ikut ke atas baru ke atas. Ketika itu dia diam tak berkata kata lagi dan tidak berusaha lain setelah itu.
Hubungan kami hanya sebatas teman dekat, tidak lebih.aku menyukainya dan aku tidak tahu dia menyukaiku atau tidak dia tidak pernah membicarakan hal itu sampai kami tamat SD walaupun dia hampir pernah membicarakan yeahh mungkin itu, mungkin yang lain, yang kami tidak mengerti mengapa nilai akhir kami sama walaupun cara belajar kami berbeda. Tanpa disadari kami pun menjauh.
Aku melanjutkan sekolah di SMP 4 Bengkulu. Dia di SMP 2 Bengkulu. Setelah itu dia kudengar menjalin hubungan dengan teman SMP nya dan ketika merasa tidak cocok memutuskannya dan mencari yang baru. Mudah dengan wajahnya yang mempesona itu ditambah dengan otaknya yang lumayan. Terakhir kudengar selama SMP ini dia sudah punya 14 mantan pacarnya. Sedangkan aku tidak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan teman cowokku di SMP ini. Aku masih belum bisa melupakannya walaupun dia tampaknya melupakan kenangan bersamaku.
Ketika SMA sekolah kami dulu SDN 12 Bengkulu tepatnya kelas 6B angkatan kami dulu mengadakan reuni kecil kecilan hanya untuk kelas kami saja. Kami mengadakannya di kelas kami dulu kelas 6B di SDN 12 Bengkulu.  Ketika itu kaku ketika bertemu dengannya. Dia yang barusan putus dengan pacarnya yang terakhirpun merasa kaku ketika bertemu denganku. Sudah lama berdiam kata. Dia memulai percakapan kami dengan menanyakan kabarku. Beberapa menit kemudian baru kami bisa menguasai keadaan sepanjang reuni kami meminggir dari teman teman kami bercerita tentang masing masing masa SMP kami. “ Sebenarnya tidak ada yang benar benar cocok dengan kepribadianku ini. Sebenarnya dulu ada orang yang benar benar cocok dengan kepribadianku “ akunya. “O.. ya siapa itu ? “ tanyaku polos. “Itu kau Shofia” jawabnya menatapku. Aku tergagap dan kaget mendengarnya tidak menyangka kalau dia mengakui itu. Saat itu juga dia mengutarakan perasaannya padaku. “ Shofia sebenarnya sejak awal kamu duduk dibelakang aku dulu di kelas 5 SD aku sudah nyaman berada didekatmu, kita bermain bercerita tertawa itu sudah cukup indah kurasakan, jadi akupun tidak pernah menyinggung tentang perasaan itu kepadamu, Sekarang ketika remaja ini aku sadar kalau kaulah cinta pertamaku, Ketika aku menjalin hubungan dengan yang lain semua terasa berbeda, berbeda dengan dirimu, Maukah kau menjadi pacarku Shofia ?”
Pertanyaan itu menggantung di langit langit kelas kami yang hingar bingar di ujung sana. Aku masih terdiam lama sejak dia mengutarakan hal itu. ”Ardiansyah sebenarnya aku juga telah lama menunggumu untuk mengutarakan ini, sudah lama aku menantikan ini dahulu. Aku juga merasakan hal yang sama tapi maaf Ardiansyah aku tak bisa, Maafkan aku” jawabku menahan tangis dan pergi meninggalkannya. Hati dan pikiranku berontak ada apa denganku, bukannya sudah lama aku menantikan hal ini, tetapi aku juga tidak tahu kenapa aku harus menolaknya seperti ada sesuatu yang lain untuk tidak menerimanya sekarang. Aku menjahuinya, aku tidak pernah datang jika ada reunian lagi. Aku sekolah di SMA yang sama dengannya di SMA Negeri 4. Kami mengambil jurusan yang berbeda. Aku mengambil jurusan IPS dan dia IPA. Walaupunan kami berada satu sekolah tetapi kami jarang bertemu. Jika tiba tiba kami bertemu. Aku langsung pergi meninggalkannya. Tiga tahun berlalu tanpa adanya percakapan. Ketika kuliah aku mendapatkan basiswa ke Jepang. Sedangkan dia berjualan kerupuk kecil kecilan karena tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan kuliah. Aku menjalani masa beasiswaku dengan amat baik sedangkan dia berusaha semaksimal mungkin untuk usahanya sendiri. Lama kelamaan jualan kerupuk kecil kecilan maju dan bertambah besar. Ardiansyah mulai merekrut beberapa pegawai untuk membantunya. Dia tetap mencari cari kabar mengenaiku di negeri Sakura tersebut. Setelah aku tamat aku pulang ke Indonesia dan lansung bekerja di pabrik Industri ternama di Bengkulu. Aku dijodohkan dengan pengusaha kaya raya oleh orang tuaku. Dia Andre  Aku menolak perjodohan tersebut dan berusaha semaksimal mungkin, tetapi orang tua memaksa dengan amat sangat. Semua undangan sudah disebar. Kesepakatan antara kedua keluarga sudah jelas untuk pernikahan kami minggu depan. Semua sudah disewa hotel besar untuk acara pernikahan tersebut, gaun pengantin yang amat sangat indah. Aku hanya dapat menangis di sisa sisa waktu ku di kamar.
Ardiansyah setelah mengethui hal itu. Dia selalu berusaha untuk mendatangi rumahku yang dikelilingi tembok tembok besar dan tebal. Orang tuaku pebisnis yang amat kaya raya berfikir penting untuk membuat pagar tembok yang penting mengingat banyak yang iri dengan kekayaan keluargaku. Belum lagi satpam yang berada dimana mana. Ardiansyah yang selalu mendatangi rumahku untuk bertemu denganku tidak diberikan kesempatan sekalipun untuk masuk oleh banyak satpam. Mereka tidak percaya orang seperti Ardiansyah mengenali aku. Aku mendengar  kabar itu. Aku tidak menghiraukannya walaupun ti lubuk hatiku yang paling dalam berharap dia bisa benar benar menyelamatiku sekarang.
Hari pernikahan tiba aku dengan baju pengantinku di kamar hotel bersiap untuk resepsi pernikahanku. Aku melihat ke cermin setelah semua pelayan yang mendandaniku pergi. Aku melihat wajahku yang sendu di kaca. Walaupun make up yang sangat tebal. Tidak bisa dibohongi kalau aku sedang sendu. Seketika itu aku melihat ada yang masuk melalui jendela kamarku lantai lima ini. Aku kaget serta merta kulihat dia  tersenyum menatapku. “Aku tidak berhenti Shofia hanya untuk dapat memasuki rumah ini, aku mempelajari banyak kungfu dan hipnotis seminggu terakhir ini dan aku menghipnotis semua satpam yang menjaga pagar belakang, dan aku dapat memanjat hotel lewat tempok luar ini hanya karenamu, Aku ingin membawamu Shofia. Hanya kita berdua. Kita akan pergi Shofia ke Negerimu dahulu, Negeri Sakura. Aku mendapatkan uang dari hasil usahaku di Indonesia, dengan itu kita memulai hidup yang baru di Jepang dan memulai usaha lagi disana. Apakah kamu mau menikah denganku Shofia?” kalimatnya mengucur keluar bersama senyuman manisnya.
Seketika itu ada yang mengetuk ngetuk kamarku. Tanpa piker panjang aku pergi dengannya melewati jendela itu kami perlahan bisa turun ke bawah dengan bantuan tali. Tidak ada yang menyangka ak pergi melewati pagar belakang. Pegawai yang dari tadi mengetuk ngetuk pintu tidak ada mendengar jawaban dari dalam menerobos masuk kedalam dan melihat tidak ada pengantin didalamnya. Semua pegawai sibuk mencari cari aku. Orang tuaku sangat panik. Dengan muka yang sangat menahan malu pernikahan dibatalkan semua undangan yang sudah hadir pulang dengan percuma. Keluarga Andre sangat marah dan merasa dipermalukan. Sedangkan Andre hanya tesenyum mendengar semua itu. Tidak masalah baginya. Karena orang tuanyalah yang juga memaksanya untuk menikahi putri pengusaha kaya tanpa cinta.
Seminggu kemudian tidak ada kabar mengenai aku. Oran tuaku sangat ngawatir dengan keadaan aku. Kemudian mereka menyadari atas kesalahan mereka sangat memaksakan aku untuk menikah dengan orang yang baru saja kukenal. Sedangkan kami sudah pergi ke Jepang. Kami menikah disana dan menjadi penduduk setempat. Ardiansyah memulai usahanya sendiri berjualan kerupuk dan aku bekerja di pabrik industri di Jepang. Dua tahun kemuadian aku mengandung betapa bahagia kami akan segera mempunyai anak. Ardiansyah melarang aku untuk bekerja lagi dan usaha kerupuknya semakin lama semakin besar.
Satu tahun kemudian aku melahirkan bayi laki laki yang kami beri nama Alfian, fi itu kependeaan namaku Shofi dan ian itu kependekan dari Ardiansyah. Kami hidup bahagia di Negeri Sakura tersebut. Sehingga akhirnya hatiku pun terketuk untuk kembali lagi ke Indonesia menemui orang tuaku dan meminta maaf pada mereka dan mengenalkan suami dan anakku kepada mereka.
Ardiansyah menyetujui permintaanku dan kami pulang ke Indonesia. Aku disambut penuh suka cita dirumahku karena aku satu satunya anak tunggal mereka. Mereka mendengar keluh kesahku dan menerima suamiku dan mereka sangat senang mengetahui mereka sudah mempunyai seorang cucu. Kami membangun rumah baru kami di Bengkulu dan merintis usaha pabrik kerupuk lagi hingga besar.
Aku terbangun di malam hari dan melihat suamiku tertidur sangat nyenyak. Aku memandangi wajahnya. Terbayang aku dengan wajah masa kecilnya yang amat sangat berbeda dengan sekarang. Dulu polos dan putih amat gemas dan lucu dan sekarang terasa amat menawan dari dahulu hingga sekarang. Cintaku yang pertama dan terakhir dan aku menyadari kalau aku pernah salah menilai tentang Cinta. Aku menyesali akan hal itu.

Kadang ketika kita merasa bahwa tak kan ada yang mencintai kita apa adanya, Sadarlah kalau itu salah, Percayalah bahwa memang ada yang akan mencintai kita apa adanya. Tetaplah berfikir positif tentang Tuhan maka Cintamu akan bahagia di akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar