Hey….
Aku merasa aku kurang beruntung dalam masalah cinta. Sejak kecil aku tak pernah
pacaran. Aku tidak pernah menyatakan cinta dan dinyatakan cinta. Kadang aku
berfikir apa karena aku yang berperawakan kurus ceking dengan wajah coklat
manis. Stylelist ku si biasa saja
tidak terlalu mencolok seperti anak
gadis lain kebanyakan seperti baju kaus berenda dengan celana jins dan rambut
yang diikat satu.
Kisah
cintaku berawal saat masa SD ku ketika itu aku duduk di kelas 5 SD. Aku tanpa
disadari sering bermain main dengan temanku Ardiansyah. Dia duduk tepat
didepanku. Itu membuat kami sering bermain sepanjang tidak ada guru. Perlahan
aku merasakan kenyamanan saat bersamanya dan cemburu ketika dia bermain dengan
teman cewek yang lain. Badannya yang semampai dengan wajah manis dan dagu yang
menonjol membuatnya tampak memesona. Tak heran kalau dia banyak disukai teman
teman cewek yang lain.
Kami
duduk di tempat yang sama kelas 6 SD. Kami semakin dekat. Dia selalu
memanggilku “kak Shofi…” dengan
panggilan yang sangat lembut dan setelah itu kami bercerita ngalor ngidul dan diiringi dengan gelak
tawa. Dia sangat peduli padaku apapun yang terjadi padaku. Pernah suatu hari
ada dua teman cowok kami berkelahi di kelas membuat situasi heboh dan mencengangkan.
Ardiansyah berusaha memisahkan mereka tetapi malah dia yang kena banyak pukulan
dari kedua teman tersebut, Ardiansyah yang sudah kalap emosi memanggil guru dan
mereka pun disuruh ke kantor. Ardiansyah yang disuruh untuk mendiamkan kelas
segera berteriak keras dengan emosi karena pukulan pukulan tadi membuatnya
kesakitan kelas yang tadinya hingar bingar keributan mendadak diam demi melihat
Ardiansyah emosi seperti itu. Semuanya pada takut semua padanya. Aku yang
terbiasa dengan dia bersikap biasa saja. Aku menenangkan dia dan dia tersenyum
hangat kepadaku. Disitu aku mengetahui kalau dia emosian tidak bisa terkendali.
Hari
itu aku terbiasa diantar ibuku sepulang sekolah tidak menyangka dia mengikutiku
diam diam. Dia ingin mengetahui dimana rumahku. Aku yang biasa sepulang sekolah
bermain dengan tetanggaku tidak menyangka kalau dia melihat dari jauh dan tak
tahu dia mengendarai apa ke rumahku. Aku mengetahuinya setelah besok dia
bersindir ria dengan teman karibnya tentang aku. Aku tersadar kalau yang mereka
bicarakan itu aku dan aku kaget kenapa diam diam kenapa gak datang aja
berkunjung ke rumah.
Hari
pertama dia mendapat HP dari orang
tuanya dia lansung meminta nomorku. Aku lagaknya jual mahal tidak
memberikannya. Tidak peduli pada saat itu pagi ujian UN. Dia membujuk dan
memohon kepadaku agar memberikan nomorku kepadanya akhirnya akupun menyerah dan
memberikannya lalu dia ingin menfhotoku aku tidak mau dan langsung lari. Padahal aku
sebenarnya senang tapi gengsiku terlalu tinggi aku meninggalkannya. Kami ujian
dengan tenang. Malamnya dia menelfonku. Malam kedua UN membuat orang tuaku
mewajibkan aku belajar tidak yang lain lain. Demi melihat Ardiansyah menelfonku
aku bersembunyi diboneka beruang besarku untuk memperkecil suaraku di kamar.
Kami pun berbicara ngalor ngidul di
telefon tidak terlalu lama kemudian kami belajar kembali.
Sebenarnya
dia pernah ingin mengajakku untuk naik ke atas lantai dua berdua saja. Katanya
ada yang ingin dibicarakan. Ketika itu kami dengan teman teman yang lain
berkunjung ke rumah teman kami. Aku dengan gengsiku yang tinggi menolaknya dan
mengajukan syarat jika teman teman ikut ke atas baru ke atas. Ketika itu dia
diam tak berkata kata lagi dan tidak berusaha lain setelah itu.
Hubungan
kami hanya sebatas teman dekat, tidak lebih.aku menyukainya dan aku tidak tahu
dia menyukaiku atau tidak dia tidak pernah membicarakan hal itu sampai kami
tamat SD walaupun dia hampir pernah membicarakan yeahh mungkin itu, mungkin yang lain, yang kami tidak mengerti
mengapa nilai akhir kami sama walaupun cara belajar kami berbeda. Tanpa
disadari kami pun menjauh.
Aku
melanjutkan sekolah di SMP 4 Bengkulu. Dia di SMP 2 Bengkulu. Setelah itu dia
kudengar menjalin hubungan dengan teman SMP nya dan ketika merasa tidak cocok
memutuskannya dan mencari yang baru. Mudah dengan wajahnya yang mempesona itu
ditambah dengan otaknya yang lumayan. Terakhir kudengar selama SMP ini dia
sudah punya 14 mantan pacarnya. Sedangkan aku tidak pernah sekalipun menjalin
hubungan dengan teman cowokku di SMP ini. Aku masih belum bisa melupakannya
walaupun dia tampaknya melupakan kenangan bersamaku.
Ketika
SMA sekolah kami dulu SDN 12 Bengkulu tepatnya kelas 6B angkatan kami dulu
mengadakan reuni kecil kecilan hanya untuk kelas kami saja. Kami mengadakannya
di kelas kami dulu kelas 6B di SDN 12 Bengkulu.
Ketika itu kaku ketika bertemu dengannya. Dia yang barusan putus dengan
pacarnya yang terakhirpun merasa kaku ketika bertemu denganku. Sudah lama
berdiam kata. Dia memulai percakapan kami dengan menanyakan kabarku. Beberapa
menit kemudian baru kami bisa menguasai keadaan sepanjang reuni kami meminggir
dari teman teman kami bercerita tentang masing masing masa SMP kami. “ Sebenarnya tidak ada yang benar benar cocok
dengan kepribadianku ini. Sebenarnya dulu ada orang yang benar benar cocok
dengan kepribadianku “ akunya. “O.. ya siapa itu ? “ tanyaku polos. “Itu kau
Shofia” jawabnya menatapku. Aku tergagap dan kaget mendengarnya tidak
menyangka kalau dia mengakui itu. Saat itu juga dia mengutarakan perasaannya
padaku. “ Shofia sebenarnya sejak awal
kamu duduk dibelakang aku dulu di kelas 5 SD aku sudah nyaman berada didekatmu,
kita bermain bercerita tertawa itu sudah cukup indah kurasakan, jadi akupun
tidak pernah menyinggung tentang perasaan itu kepadamu, Sekarang ketika remaja
ini aku sadar kalau kaulah cinta pertamaku, Ketika aku menjalin hubungan dengan
yang lain semua terasa berbeda, berbeda dengan dirimu, Maukah kau menjadi
pacarku Shofia ?”
Pertanyaan
itu menggantung di langit langit kelas kami yang hingar bingar di ujung sana.
Aku masih terdiam lama sejak dia mengutarakan hal itu. ”Ardiansyah sebenarnya aku juga telah lama menunggumu untuk
mengutarakan ini, sudah lama aku menantikan ini dahulu. Aku juga merasakan hal
yang sama tapi maaf Ardiansyah aku tak bisa, Maafkan aku” jawabku menahan
tangis dan pergi meninggalkannya. Hati dan pikiranku berontak ada apa
denganku, bukannya sudah lama aku menantikan hal ini, tetapi aku juga tidak
tahu kenapa aku harus menolaknya seperti ada sesuatu yang lain untuk tidak
menerimanya sekarang. Aku menjahuinya, aku tidak pernah datang jika ada reunian
lagi. Aku sekolah di SMA yang sama dengannya di SMA Negeri 4. Kami mengambil
jurusan yang berbeda. Aku mengambil jurusan IPS dan dia IPA. Walaupunan kami
berada satu sekolah tetapi kami jarang bertemu. Jika tiba tiba kami bertemu.
Aku langsung pergi meninggalkannya. Tiga tahun berlalu tanpa adanya percakapan.
Ketika kuliah aku mendapatkan basiswa ke Jepang. Sedangkan dia berjualan kerupuk
kecil kecilan karena tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan kuliah. Aku
menjalani masa beasiswaku dengan amat baik sedangkan dia berusaha semaksimal
mungkin untuk usahanya sendiri. Lama kelamaan jualan kerupuk kecil kecilan maju
dan bertambah besar. Ardiansyah mulai merekrut beberapa pegawai untuk
membantunya. Dia tetap mencari cari kabar mengenaiku di negeri Sakura tersebut.
Setelah aku tamat aku pulang ke Indonesia dan lansung bekerja di pabrik
Industri ternama di Bengkulu. Aku dijodohkan dengan pengusaha kaya raya oleh
orang tuaku. Dia Andre Aku menolak
perjodohan tersebut dan berusaha semaksimal mungkin, tetapi orang tua memaksa
dengan amat sangat. Semua undangan sudah disebar. Kesepakatan antara kedua
keluarga sudah jelas untuk pernikahan kami minggu depan. Semua sudah disewa
hotel besar untuk acara pernikahan tersebut, gaun pengantin yang amat sangat
indah. Aku hanya dapat menangis di sisa sisa waktu ku di kamar.
Ardiansyah
setelah mengethui hal itu. Dia selalu berusaha untuk mendatangi rumahku yang
dikelilingi tembok tembok besar dan tebal. Orang tuaku pebisnis yang amat kaya
raya berfikir penting untuk membuat pagar tembok yang penting mengingat banyak
yang iri dengan kekayaan keluargaku. Belum lagi satpam yang berada dimana mana.
Ardiansyah yang selalu mendatangi rumahku untuk bertemu denganku tidak
diberikan kesempatan sekalipun untuk masuk oleh banyak satpam. Mereka tidak
percaya orang seperti Ardiansyah mengenali aku. Aku mendengar kabar itu. Aku tidak menghiraukannya walaupun
ti lubuk hatiku yang paling dalam berharap dia bisa benar benar menyelamatiku
sekarang.
Hari
pernikahan tiba aku dengan baju pengantinku di kamar hotel bersiap untuk
resepsi pernikahanku. Aku melihat ke cermin setelah semua pelayan yang
mendandaniku pergi. Aku melihat wajahku yang sendu di kaca. Walaupun make up yang sangat tebal. Tidak bisa
dibohongi kalau aku sedang sendu. Seketika itu aku melihat ada yang masuk
melalui jendela kamarku lantai lima ini. Aku kaget serta merta kulihat dia tersenyum menatapku. “Aku tidak berhenti Shofia hanya untuk dapat memasuki rumah ini, aku
mempelajari banyak kungfu dan hipnotis seminggu terakhir ini dan aku
menghipnotis semua satpam yang menjaga pagar belakang, dan aku dapat memanjat
hotel lewat tempok luar ini hanya karenamu, Aku ingin membawamu Shofia. Hanya
kita berdua. Kita akan pergi Shofia ke Negerimu dahulu, Negeri Sakura. Aku
mendapatkan uang dari hasil usahaku di Indonesia, dengan itu kita memulai hidup
yang baru di Jepang dan memulai usaha lagi disana. Apakah kamu mau menikah
denganku Shofia?” kalimatnya mengucur keluar bersama senyuman manisnya.
Seketika
itu ada yang mengetuk ngetuk kamarku. Tanpa piker panjang aku pergi dengannya
melewati jendela itu kami perlahan bisa turun ke bawah dengan bantuan tali.
Tidak ada yang menyangka ak pergi melewati pagar belakang. Pegawai yang dari
tadi mengetuk ngetuk pintu tidak ada mendengar jawaban dari dalam menerobos
masuk kedalam dan melihat tidak ada pengantin didalamnya. Semua pegawai sibuk
mencari cari aku. Orang tuaku sangat panik. Dengan muka yang sangat menahan
malu pernikahan dibatalkan semua undangan yang sudah hadir pulang dengan
percuma. Keluarga Andre sangat marah dan merasa dipermalukan. Sedangkan Andre
hanya tesenyum mendengar semua itu. Tidak masalah baginya. Karena orang
tuanyalah yang juga memaksanya untuk menikahi putri pengusaha kaya tanpa cinta.
Seminggu
kemudian tidak ada kabar mengenai aku. Oran tuaku sangat ngawatir dengan
keadaan aku. Kemudian mereka menyadari atas kesalahan mereka sangat memaksakan
aku untuk menikah dengan orang yang baru saja kukenal. Sedangkan kami sudah
pergi ke Jepang. Kami menikah disana dan menjadi penduduk setempat. Ardiansyah
memulai usahanya sendiri berjualan kerupuk dan aku bekerja di pabrik industri
di Jepang. Dua tahun kemuadian aku mengandung betapa bahagia kami akan segera
mempunyai anak. Ardiansyah melarang aku untuk bekerja lagi dan usaha kerupuknya
semakin lama semakin besar.
Satu
tahun kemudian aku melahirkan bayi laki laki yang kami beri nama Alfian, fi itu kependeaan namaku Shofi
dan ian itu kependekan dari
Ardiansyah. Kami hidup bahagia di Negeri Sakura tersebut. Sehingga akhirnya
hatiku pun terketuk untuk kembali lagi ke Indonesia menemui orang tuaku dan
meminta maaf pada mereka dan mengenalkan suami dan anakku kepada mereka.
Ardiansyah
menyetujui permintaanku dan kami pulang ke Indonesia. Aku disambut penuh suka
cita dirumahku karena aku satu satunya anak tunggal mereka. Mereka mendengar
keluh kesahku dan menerima suamiku dan mereka sangat senang mengetahui mereka
sudah mempunyai seorang cucu. Kami membangun rumah baru kami di Bengkulu dan
merintis usaha pabrik kerupuk lagi hingga besar.
Aku
terbangun di malam hari dan melihat suamiku tertidur sangat nyenyak. Aku
memandangi wajahnya. Terbayang aku dengan wajah masa kecilnya yang amat sangat
berbeda dengan sekarang. Dulu polos dan putih amat gemas dan lucu dan sekarang
terasa amat menawan dari dahulu hingga sekarang. Cintaku yang pertama dan
terakhir dan aku menyadari kalau aku pernah salah menilai tentang Cinta. Aku menyesali
akan hal itu.
Kadang ketika kita merasa bahwa tak
kan ada yang mencintai kita apa adanya, Sadarlah kalau itu salah, Percayalah
bahwa memang ada yang akan mencintai kita apa adanya. Tetaplah berfikir positif
tentang Tuhan maka Cintamu akan bahagia di akhirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar